" Apa gunanya punya jutaan piala, medali, dan pesawat, jika kau tidak dapat bersenang-senang? " [James Hunt]
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 September 2017

Hari 1 & 2 Di Jogja – Luasnya Candi Ratu Boko & Kemegahan Candi Prambanan

by
Perjalanan kali ini saya terbang dari Banjarmasin ke Jogja dengan transit di Jakarta terlebih dulu. Berangkat siang hari dan tiba saat malam hari, harga tiket yang dengan rute tersebut menurut saya cukup murah bila dibandingkan melalui transit di surabaya. Saya tiba di jogja jam 11 malam, saya cukup kaget karena pintu keluar bandaranya dekat dengan jalan utama, jadinya bisa pesan Go-Jek (Aplikasi Ojek Online).

Kawasan Utama Candi Prambanan

Selama di Jogja saya menginap di EDU HOSTEL, penginapan ala-ala backpacker bertempat di Jogja. Penginapan ini gampang saya temukan di TRAVELOKA (Aplikasi pesan tiket Pesawat & Hotel Online) karena Review nya yang bagus dan harga nya cukup murah. Jaraknya dari bandara pun sekitar 20 km, lokasinya juga dekat dengan kawasan Malioboro. Tempatnya sangat nyaman dengan masing-masing kamar punya 3 kasur dua tingkat untuk 6 orang, 1 kamar mandi, 6 loker barang, AC pula dan dapat FREE SARAPAN. Tempatnya juga cukup bersih, kasurnya juga enak, hanya saja Anda perlu memiliki gembok bila ingin mengamankan barang di loker (bisa juga beli di bagian resepsionis hostelnya). Untuk motor saya memilih untuk rental di JOGJIG . Setelah selesai bongkar muat barang, charge hp+powerbank, kunci loker kemudian tidur untuk persiapan menjelajah di hari berikutnya.

Keesokan harinya saya sudah siap jam 10 dan memulai perjalanan saya yang pertama menuju wilayah Candi Prambanan menggunakan rute Google Map dengan jarak 23 km. Saya pun tiba disana sekitar jam 11 siang, langsung menuju loket pembelian tiket seharga 75,000 untuk Candi Prambanan + Candi Ratu Boko. Karena lokasi Candi Ratu Boko yang agak jauh maka saya disarankan untuk mengunjungi nya pertama. Saya menggunakan shuttle bus menuju Candi Ratu Boko dengan perjalanan sekitar 10 menit.

Gerbang Utama Candi Ratu Boko


Candi Ratu Boko sendiri merupakan kompleks sejumlah bangunan yang berada di selatan Candi Prambanan dimana tempatnya yang berada diatas bukit. Kompleks bangunan ini dikaitkan dengan legenda rakyat setempat yaitu Roro Jonggrang. Kawasan Candi Ratu Boko ini sangat luas, saya pun cukup lelah berkeliling mulai dari gerbang depan hingga ke kawasan padepokan nya. Disini biasanya orang berdatangan saat matahari tenggelam (baca: sunset). Karena posisinya yang berada diatas bukit, jadi pemandangan kebawah nya pun cukup bagus. Banyak spot foto yang instagramable buat Anda yang menyukai fotografi, bagi Anda yang senang menjelajah juga sangat saya rekomendasikan. Disini Anda tidak hanya belajar sejarah namun juga akan kagum dibuatnya, luasnya kawasan ini maupun arsitektur bangunan candi yang masih utuh sampai hari ini. Cukup 1 jam saya mengelilingi kawasan Candi Ratu Boko dan saya akhiri dengan menikmati kelapa muda dan soto untuk makan siang.

Candi Prambanan atau Candi Roro Jonggrang merupakan kompleks Candi Hindu terbesar di Indonesia. Candi terbesarnya pun bernama Candi Brahma, Wisnu dan Siwa lambing dari Tri Murti dalam agama Hindu. Didepan setiap candi utama terdapat candi yang melambangkan wahana dari Tri Murti itu sendiri seperti Garuda (Suparna), Lembu (Nandhini) dan Angsa (Hamsa). Satu persatu candi utama dan wahana pun saya kunjungi, dan memang hanya tersisa beberapa Arca yang masih utuh didalam masing-masing candi. Ternyata sekitar tahun 2006 pernah terjadi gempa yang mengakibatkan kompleks Candi Prambanan rusak parah karenanya dan lainnya rata dengan tanah. Didalam kawasan Candi Prambanan juga saya bisa menemukan Candi Sewu, Candi Lumbung, Candi Bubrah, Candi Plaosan yang mana terkena dampak juga.

Candi Prambanan Dari Sisi Pintu Keluar

Setelah puas dengan berkeliling dan mengagumi keindahan arsitektur dari candi-candi ini akhirnya saya memutuskan untuk pulang dan beristirahat. Perjalanan ke timur jogja kali ini cukup mengesankan dan membuat liburan singkat saya terasa sempurna.  Istirahat yang cukup merupakan kunci untuk bisa maksimal dalam penjelajahan di hari berikutnya yang mana menuju ke barat jogja. Sampai ketemu di tulisan saya selanjutnya, terima kasih sudah mengikuti cerita saya. Salam Blogger

Minggu, 10 September 2017

Semuanya Dimulai Dari Jogjakarta

by
Semuanya Dimulai Dari Jogjakarta - Kesempatan dapat liburan singkat akhir Agustus lalu membuat saya memilih Jogja sebagai kota tujuan. Dari rencana awal memang rute liburan saya ingin mencoba Jogja-Semarang-Dieng-Surabaya atau mencoba menjelajah Malaysia-Singapura-Thailand-Myanmar-Kamboja (butuh waktu 14 hari), namun dengan segala pertimbangan waktu akhirnya cuma Jogja. Untuk Anda yang berada di pulau jawa tentu punya banyak pilihan untuk transportasi, Anda bisa menyesuaikan budget dan waktu Anda. Namun berbeda bila Anda diluar pulau jawa seperti saya ini, hanya bisa menggunakan Pesawat Terbang. Dengan biaya yang lebih mahal tentunya yang hanya penerbangan antar kota, bandingkan sama rute Jakarta-Malaysia atau Jakarta-Singapura yang lebih murah.
Candi Prambanan tampak samping

Disini di Jogja semuanya dimulai, perjalanan pertama saya yang akan membawa saya pada perjanalan selanjutnya. Perjalanan pertama ini meliputi 5 Kabupaten & 2 Kotamadya, 7 Hari 6 Malam, 4 Bandar Udara. Senang bisa mengunjungi Kab. Gunung Kidul, Kab. Bantul, Kab. Sleman, Kab. Kulon Progo, Kota Yogyakarta, Kab. Sidoarjo, dan Kota Surabaya. Menginap dan merasakan suasana kota Indonesia selama 7 Hari 6 Malam seorang diri dan melalui 4 Bandar Udara meliputi Bandar Udara Syamsudin Noor, Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Bandar Udara Internasional Adisutjipto, Bandar Udara Internasional Juanda.

Beberapa Stupa Candi Borobudur 

Gerbang Depan Candi Ratu Boko

Perjanalan singkat nan melelahkan tetap saya jalani demi mengenal Bumi Nusantara beserta isinya. Mengenal dan mengunjungi tempat-tempat baru sambil mengagumi segala ciptaan-Nya. Bukan hanya sekedar berfoto ria namun juga mendapatkan makna dari perjalanan itu sendiri. Apalagi disini saya cuma berjalan sendiri (mau nya sih cari teman jalan), banyak hal yang harus dipersiapkan juga.

Dan yang paling menyenangkan dari sebuah perjalanan adalah bisa kembali ke rumah

Selanjutnya saya akan coba berbagi kegiatan saya setiap harinya termasuk kunjungan beberapa tempat di Jogja. Semoga bermanfaat dan yang belum ke jogja bisa segera berkunjung ke jogja.

Happy Sharing


Sabtu, 14 Januari 2017

Main Ke Danau Seran Dan Rumah Jomblo Di Kalimantan

by
Main Ke Danau Seran Dan Rumah Jomblo Di Kalimantan - Haloo gan, lama tak jumpa di blog kesayangan Official Wacana Blog. Kali ini saya akan kembali lagi dengan berbagi cerita dari daerah Kalimantan Selatan. Pertama kali tiba dikalimantan langsung mendarat di kota Banjarmasin, kota yang terkenal dengan pasar terapungnya (meskipun belum sempat kesana, semoga aja bisa). Tak perlu panjang lebar langsung saja petualangan diawal tahun 2017 ini saya mulai dari Danau Seran. Karena di Kalimantan Selatan ini sangat banyak wisata danau, apalagi danau yang airnya berwarna biru bekas penambangan.

Jarak yang ditempuh untuk sampai ke Danau Seran ini sekitar 1,5 jam dari kota Banjarmasin atau sekitar 1 jam dari kota Banjarbaru. Tidak sulit juga untuk mencarinya di google maps, jadi teman-teman tidak perlu khawatir untuk tersesat hehehe. OK! Perjalanan kesana menggunakan mobil Avanza, sepanjang perjalanan beraspal jadi lancar aja. Eitsss, tapi ketika sudah menemui tanda arah menuju Danau Seran ini bersiap-siaplah menghadapi serangan tanah merah yang bisa ‘becek’ sewaktu-waktu kena air. Jadi disarankan berhati-hati bagi yang ingin berkunjung kesini ketika musim hujan. Lanjuuttt, tidak jauh dari sana sekitar 10 menit kita sudah sampai dan langsung disambut dengan …. Karcis masuk. Tapi dari pintu masuknya pun sudah terlihat danau yang sangat luas nan indah membentang. Sangat disarankan sih masuk dari arah yang benar, biar bisa berhenti berfoto ria bersama danau yang bening ini.


Danau Seran, Kalimantan Selatan Tampak Gelap

Numpang eksis dulu di Danau Seran


Danau Seran, Kalimantan Selatan  Tampak Terang

Sebenarnya sih danaunya luas, cuma karena baru-baru saja terangkat jadi tempat berwisata jadinya infrastrukrur pendukungnya baru juga dibangun. Disini Anda bisa juga menyeberang ke pulau sebelah sekitar 5 menit saja menggunakan perahu. Dipulau itu kurang tampak beberapa ayunan yang dapat dimainkan serta jajanan bila kalian lapar. Selebihnya pemandangan danau ini dari pulau tersebut kurang memuaskan disbanding dekat pintu masuk tadi. Makanya tidak lama dari pulau tersebut kami langsung bergegas untuk ke tempat selanjutnya.

Rumah Jomblo Gunung Kupang, Kalimantan Selatan

Pemandangan sekitar Rumah Jomblo

 Tujuan selanjutnya kami menuju ke daerah Banjarbaru, mendatangi sebuah tempat yang orang sini katakana sebagai ‘rumah jomblo’. Rumahnya memang tinggal satu-satunya berada diketinggian tertentu yang entah disengaja atau tidak oleh developer perumahan sini. Tempat ‘wisata’ rumah jomblo ini berada didaerah gunung kupang perumahan cempaka. Pemandangan yang jarang ditemui ini pun cukup menarik minat warga sekitar serta orang-orang dari berbagai daerah untuk dating melihatnya sendiri. Kami tiba disini sekitar jam 5 sore dimana matahari sebentar lagi terbenam. Maka tinggal lah kami berfoto ria dengan rumah jomblo yang mirip rumah dalam film up (awalnya rumah ini ditambahkan balon juga lhoo). Tak lama setelah menikmati matahari tenggelam kami pun akhirnya pulang. Begitulah cerita kami diawal tahun 2017, berharap bisa menjelajah Kalimantan selatan lagi dibulan-bulan selanjutnya.

Selasa, 06 September 2016

Pangkalpinang, Kota Dengan Sejarah Yang Tak Boleh Dilewatkan

by
Kota Pangkalpinang merupakan salah satu Daerah Pemerintahan Kota di Indonesia yang mana bagian dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kota ini terletak di bagian timur Pulau Bangka atau kurang lebih 15 menit bila dari Bandara Depati Amir. Kota ini luasnya 118.408 km2 dengan jumlah penduduk sekitar 328.167 jiwa. Pangkalpinang resmi berdiri pada 14 November 1956, yang artinya kurang lebih 11 tahun setelah Indonesia merdeka. Meskipun demikian namun Kota Pangkalpinang diprediksi sudah ada sejak tahun 1757, inilah salah satu alasan mengapa sejarah Kota Pangkalpinang tak boleh dilewatkan. Saya yakin masih banyak orang yang bahkan belum tau keberadaan kota Pangkalpinang ini apalagi tempatnya bahkan sejarahnya, saya sendiri belum pernah kesana secara langsung hehe.
Wilayah Kota Pangkalpinang Dari Google Maps

Bila dilihat dari etimologi katanya, pangkalpinang terdiri dari dua kata yaitu pangkal yang artinya pusat atau awal, dan pinang (areca chatecu) yang mana nama tumbuhan sejenis palm. Adapun pangkal juga digunakan oleh orang Bangka di masa lalu untuk penyebutan daerah-daerah seperti Pangkal Bulo, Pangkal Raya, Pangkal Menduk dll. Pusat permukiman awal dari Kota Pangkalpinang dibangun ditepi Sungai Rangkui yang membelah kota ini. Proses pembentukan Pangkalpinang menjadi sebuah kota seperti sekarang sangatlah panjang dan berakar. Hal ini dimulai dari saat biji timah yang ditemukan hamper di seluruh pelosok Pulau Bangka, hingga upaya eksploitasi timah dan hasil bumi oleh berbagai bangsa. Awal mula Pangkalpinang ini dari pemerintahan Sultan Susuhunan Ahmad Najamuddin I Adi Kesumo, dimana beliau memerintahkan Abang Pahang bergelar Tumenggung Dita Menggala dan kepada Depati serta Batin-batin. Kemudian Batin kepada Krio yang ada di Pulau Bangka untuk mencari Pangkal sebagai tempat kedudukan Demang dan Jenang yang akan bertugas mengawasi penambangan timah. Adapun pangkal yang dibuat pada masa itu adalah Pangkal Bendul, Bijat, Bunut, Rambat, Parit Sungai Buluh, Tempilang, Lajang, Sungai Liat, Cegal, Pangkal Koba, Balar, Toboali dan Pangkalpinang.

Diketahui bahwa Pulau Bangka pernah menjadi wilayah taklukan dari Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Kemudian setelahnya berlanjut dikuasai oleh Belanda, Inggris hingga Jepang. Setelah Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, oleh Belanda dibentuk Dewan Bangka Sementara pada 10 Desember 1946. Selanjutnya resmi menjadi Dewan Bangka yang dipimpin oleh Musarif Datuk Bandaharo Leo yang masih dilantik oleh Belanda pada 11 November 1947. Dewan Bangka merupakan Lembaga Pemerintahan Otonomi Tinggi. Pada 23 Januari 1948, Federasi Bangka Belitung dan Riau (FABERI) dimana yang tergabung didalamnya Dewan Bangka, Dewan Belitung, dan Dewan Riau merupakan suatu bagian dalam Negara Republik Indonesia Serikat. Kemudian berdasarkan Keputusan Presiden RIS Nomor 141 Tahun 1950 kembali bersatu dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) hingga berlaku Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1948. Pada 22 April 1950 oleh Pemerintah diserahkan wilayah Bangka Belitung kepada Gubernur Sumatera Selatan Dr. Mohd. Isa yang disaksikan oleh Perdana Menteri Dr. Hakim dan Dewan Bangka Belitung dibubarkan. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2000 wilayah Kota Pangkalpinang, Kabupaten Bangka dan Kabupaten Belitung menjadi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Selanjutnya Kota Pangkalpinang berkembang dari status kota kecil di tahun 1956, kotapraja, kotamadya hingga menjadi kotamadya daerah tingkat II Pangkalpinang.

Pulau Bangka Dilihat Dari Google Maps

Kemudian bila diperhatikan hingga saat ini masih menjadi perdebatan untuk penduduk asli di Pulau Bangka khususnya di Pangkalpinang itu sendiri. Ada yang mengatakan bahwa penduduk asli Pulau ini adalah Suku Melayu, namun sejarak kota ini juga diwarnai dengan kedatangan orang Bugis. Orang Cina juga adalah bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan pulau ini. Sebuah buku yang diterbitkan pada tahun 1954 berjudul Republik Indonesia Propinsi Sumatera Selatan menuliskan bahwa penduduk asli Pulau Bangka adalah mereka yang merupakan hasil pertalian perkawinan antara pelaut yang datang dari Jawa, Palembang, Minangkabau dan Bugis yang menjelma menjadi penduduk asli yang baru.

Jika dilihat dari sejarahnya, Kota Pangkalpinang memiliki sejarah yang mengakar bahkan sampai saat masa kerajaan di nusantara masih berkuasa. Apalagi dahulu beberapa pemimpin bangsa ini ada yang pernah diasingkan di daerah Pangkalpinang ataupun Kepulauan Bangka. Sebut saja Bung Hatta, RS Soerjadarma (dulunya KSAU), MR Asaat (dulunya Ketua KNIP) dan AG Pringgodigdo (dulunya Mensesneg). Bahkan sekelas Bung Karno, KH Agus Salim maupun Sutan Sjahrir pernah diasingkan juga disini meskipun tidak dalam waktu lama. Bila Anda sempat berkunjung ke Pangkalpinang pastikan Anda dapat berkunjung ke beberapa destinasi penting dan cagar budaya di Kota Pangkalpinang seperti berikut ini.

Rumah Residen
Bangunan ini terletak d jalan Merdeka nomor 1. Sebelum menjadi rumah dinas Walikota, dulunya ini rumah Residen Belanda. Rumah ini sangat bersejarah karena menjadi pusat pemerintahan dan pusat kegiatan di Kota Pangkalpinang. Didepannya terdapat alun-alun atau lebih dikenal Lapangan Merdeka. Dihalaman rumah tersebut juga terdapat dua meriam kuno berangka tahun 1840 dan 1857.

Tamansari
Wakil Presiden Mohammad Hatta meresmikan Tugu Pergerakan Kemerdekaan di area ini pada tahun 1949. Adapun Tugu Pergerakan Kemerdekaan dibangun untuk mengenang perjuangan rakyat Bangka dalam mempertahankan serta merebut kemerdekaan setelah proklamasi 17 Agustus 1945.

Museum Timah Indonesia
Awalnya rumah pejabat perusahaan timah Bangka Tin Winnig Bedryf dan menjadi museum sejak 1997. Lokasi museum ini di Jalan Jenderal A.Yani No. 17

Masjid Jami’
Masjid ini berlokasi di kampong dalam, dan diperkirakan dibangun tahun 1930. Masjid ini dibangun oleh Atok H. Saleh penghulu Kota Pangkalpinang dengan bentuk Pyramid berlantai dua. Bangunan ini berlantai semen dan berdiding kayu serta atap terbuat dari genteng. Lantai 1 untuk sholat, lantai 2 sebagai perpustakaan dan penyimpanan kelengkapan. Pemugaran pertama masjid ini dilakukan tahun 1950 atas swadaya masyarakat.

Makam Belanda (Keerkhof)
Kompleks Pemakaman Belanda ini terletak di jalan Sekolah Kelurahan Melintang Kecamatan Rangkui. Disini terdapat sekitar 90 makam, dimana yang tertua berasal dari tahun 1902 dan termuda sekitar tahun 1950an. Salah satu makam yang tertua adalah makam Nyonya Irene Mathilde Ehrencron yang wafat pada 10 MAret 1928. Keerkhof adalah salah satu bukti bahwa Pangkalpinang memiliki nilai strategis bagi Pemerintah Hindia Belanda waktu itu.

Perigi Pekasem
Sumur atau perigi pekasem ini terletak di Kelurahan Tuatunu Indah Kecamatan Gerunggang. Sumur ini dulunya dijadikan tempat untuk membuang mayat orang-orang yang terbunuh TKR (Tentara Keamanan Rakyat), karena dianggap musuh atau sebagai mata-mata Belanda atau sekutu.

Serta masih banyak tempat lainnya seperti Taman Merdeka, Gereja Maranatha, Gereja Katedral Pangkalpinang, Vihara Citra Maitreya, Klenteng Konghucu, RS Bakti Timah, Wisma Timah I dll.

Tema dan Slogan Visit Pangkalpinang Tahun 2015



Pangkalpinang, Pangkal Kemenangan“, demikian salah satu teriakan dari Presiden Soekarno di Pangkalpinang saat akan kembali ke Ibukota Republik Indonesia di Yogyakarta pada 6 Juli 1949. Dikota Pangkalpinang Anda dapat menemukan keramahan, kerukunan masyarakatnya , keragaman adat, tradisi, agama serta budaya.  Hal ini telah berlangsung sejak dahulu kala dan akan tetap berlangsung hingga anak cucu kelak. Sejarah inilah yang nantinya akan diceritakan kepada anak-anak penerus bangsa khususnya generasi di Kota Pangkalpinang. Bahkan Pesona Pangkal Pinang dapat terlihat dari sisi sejarah nya.



Referensi : Sejarah Kota Pangkalpinang - Academia Edu

Kamis, 17 Maret 2016

Mencari Kucing Besar Di Kebun Binatang Bandung

by
Cerita kali ini tentang mencari kucing besar dan membawa saya untuk pertama kalinya ke kebun binatang. Sejujurnya memang di Sulawesi Selatan, daerah asal saya memang tidak ada kebun binatang. Kebun Binatang Bandung ini beralamatkan di Jalan Kebun Binatang No 6 Taman Sari Bandung Jawa Barat Indonesia – Telpon (022) 2507302. Karena sudah hafal daerah Bandung, tak cukup sulit untuk menuju ke kebun binatang ini menggunakan kendaraan pribadi. Tanpa perlu waktu lama kamipun parkir kendaraan di kampus ITB dan masuk ke kebun binatang melalui pintu 2. Sekedar informasi bahwa kebun binatang ini memiliki 3 pintu masuk dan harga tiket masuknya Rp. 20.000 / orang. Kebetulan kemarin itu pas weekday, jadi untuk weekend sayapun belum mengetahui harga tiketnya ya.

Doc. Pribadi - Panthera Tigris

Petualangan pun dimulai!! Kunjungan yang pertama setelah kami berlima masuk ternyata tempat sekumpulan buaya. Namun sangat disayangkan buaya nya saat itu sedang asik berjemur tanpa melakukan gerakan sedikitpun. Meskipun tetap saja ada seorang teman yang tidak terlalu suka sehingga mengajak untuk segera pindah. Tak jauh dari tempat buaya ada sekumpulan anak beruang dengan kandang terbuka. Terlihat beruang disini asik saja menerima kiriman kacang maupun kerupuk dari pengunjung yang datang. Kali ini melanjutkan perjalanan untuk melihat satwa lain dan tempat yang dituju ternyata sekumpulan satwa burung dan juga reptil. Mulai dari jalak bali, kasuari, merak, elang rajawali, kakatua, sloth, berbagai jenis ular seperti cobra. Beranjak dari burung dan reptil kami pun memasuki kawasan satwa primata seperti owa jawa, wau-wau dkk. Selain satwa burung, reptil dan primata, kita juga bisa menjumpai gajah, unta, banteng, kambing, tapir, babi hutan, kuda nil, berang-berang, rusa, dan masih banyak lagi.

Doc. Pribadi - Beruang kecil


Di kebun binatang ini terdapat 213 jenis satwa, terdapat 79 jenis hewan langka yang dilindungi pemerintah. Namun yang cukup menyita perhatian saya adalah satwa langka yaitu 'kucing besar'. Anda tau kucing besar? Ya, kucing besar atau Panthera Tigris bahasa latinnya dikenal sebagai Harimau dalam bahasa Indonesia. Kenapa dibilang kucing besar? Karena dilihat dari bentuknya tidak jauh berbeda dengan kucing, hanya ukurannya lebih besar.

Ternyata di kebun binatang bandung terdapat 3 kandang harimau yang tempatnya berbeda. Tempat pertama yang kami kunjungi merupakan tempat dari seekor harimau. Kandangnya yang cukup tinggi membuat kami agak kesulitan melihat 'kucing besar' ini dari atas, ditambah harimaunya juga lagi bersantai layaknya tidur siang. Selanjutnya ada kandang terbuka yang cukup besar dari seekor harimau. Lagi lagi 'kucing besar' ini lagi bersantai tidur siang sambil menghindari sinar matahari. Namun tak berapa lama kami menyaksikan, harimau tersebut terbangun sehingga sempat untuk mengabadikan momen tingkah lakunya. Hal yang cukup menarik disini 'kucing besar' nya kok makan rumput atau dedaunan. Salah seorang teman malah nyeletuk, "karena dibandung jadi dikira lalapan mungkin". Kemudian tempat terakhir dari 'kucing besar' berada dideretan harimau dan juga singa. Kandangnya yang tidak terlalu besar dan dilindungi oleh kaca bening yang membuat kami tetap bisa melihat tingkahnya.

Doc. Pribadi - Pose Full Tim

Akhirnya misi mecari kucing besar di kebun binatang bandung tercapai juga, meskipun perlu waktu mengitari satwa-satwa lain sebelumnya. Tingkah laku dan bentuk hewan ini yang terbilang menggemaskan (asal tidak kena gigit atau cakar aja hehe) cukup memuaskan kami hari itu. Tak lupa sebelum pulang kami sempatkan untuk berpose bersama sambil berjalan santai ke pintu keluar. Demikianlah perjalanan kali ini Mencari Kucing Besar Di Kebun Binatang Bandung ! Sampai jumpa lagi di jalan-jalan selanjutnya. Seperti biasa ada sebuah Quote tentang kebun binatang dan binatang sebagai berikut :

“The greatness of a nation and its moral progress can be judged by the way its animals are treated.” - Mahatma Gandhi
“You can judge a man's true character by the way he treats his fellow animals.” - Paul McCartney
“Seperti perpustakaan umum, atau museum, kebun binatang bertujuan melayani bidang pendidikan populer serta ilmu pengetahuan.” ― Yann Martel, Life of Pi

Jumat, 13 Maret 2015

Petualangan ke Curug Malela, Kabupaten Bandung Barat Indonesia

by
Selamat Hari Valentine atau Hari Kasih Sayang bagi yang merayakan, mumpung baru lewat 2 hari tanggal 14 Februari. Oke, kali ini mimin mau bercerita mengenai Petualangan melancong ke Curug Malela pada hari Minggu tanggal 15 Februari 2015 kemarin. Cerita ini dimulai dari ide dari salah satu anggota kabinet jalan-jalan yang merekomendasikan tujuan liburan akhir pekan kesana. Tanpa wacaana lagi, paginya ane dan kawan langsung berangkat ke tujuan. Meskipun belum ada yang tau jalan kesana kita percaya dengan google maps pasti akan sampai, walaupun tak tahu berapa jam lamanya.

Rute Ane ke Curug Malela via Google Maps

Awal perjalanan melalui jalur kopo kemudian terus ke jalan ciwidey-soreang dan tak berapa lama kemudian kami berbelok memasuki kawasan pegunungan mengikuti arahan google maps. Jalanan disini cukup berbatu dimana hanya sebagian saja yang diaspal. Naik turun dari gunung satu ke gunung yang lainnya, sawah dan beberapa sungai telah kami lewati hingga ditengah perjalanan mulai ragu ini jalur untuk ke curug malela. Kami mencoba bertanya pada penduduk sekitar dan hasilnya ternyata rute nya sudah benar namun perjalanan masih panjang. Akhirnya perjalanan dilanjutkan lagi dengan mengitari beberapa gunung melalui jalan berbatu mengikuti jalur pada google maps. Sudah sekitar 2 jam kami melewati jalur itu hingga akhirnya bertemu dengan jalan raya yang beraspal mulus. Lanjut menyusuri jalanan hingga kami menemukan penunjuk jalan bertuliskan arah Curug Malela dan juga arah dari batu jajar. Akibat perjalanan melelahkan tadi akhirnya kami mencoba istirahat sejenak disalah satu warung sembari mengisi tenaga. Sembari santai sejenak kami memikirkan arah batu jajar tadi (artinya jalurnya bisa lewat soekarno-hatta -- cimahi -- batu jajar). Beginilah kalau belum tau medan dan berbekal google maps saja, pelajaran berharga bagi yang menghargai waktu.

selfi dulu broo di curug malela

Foto Curug Malela


Tak perlu bagi kami untuk istirahat karena istirahat yang sebenarnya itu ketika sudah sampai ditujuan. Oke, kali ini jalurnya sudah membaik dengan jalanan aspal disepanjang jalan *yosh bisa cepat sampai. Baru beberapa jam berlalu akhirnya jalanannya kembali berbatu kemudian aspal lagi kemudian berbatu lagi. Akhirnya selang 2,5 jam dari tempat kami istirahat tadi, ane akhirnya sampai didepan gerbang wisata Curug Malela. Untuk masuk kesini cukup merogoh kocek 10 ribu rupiah saja untuk satu orang. Setelah melewati gerbang tadi ane kira jalanannya udah bagus kayak wisata-wisata lainnya tapi ternyata konjugate dari ekspektasi ane. Tanpa berlama-lama lagi ane gass poll aja biar cepat sampai ke tkp. Ternyata eh ternyata lagi perjalanan dari gerbang ke tempat persinggahan curugnya butuh waktu kurang lebih 30 menit. Oiya jalur yang sekarang sepertinya hanya bisa dilalui oleh motor aja, soalnya kalau mobil bakal susah banget (hampir gak bisa). Lanjut, akhirnya ane sampai juga di tempat persinggahan dan untuk menuju ke curug nya kita perlu menempuh perjalanan kurang lebih 20-30 menit berjalan kaki. Sungguh perjuangan yaa untuk bisa sampai ke mini Niagaranyanya Indonesia ini apalagi jalanan kesana yang menurun. Kalau dilakukan dengan usaha yang ikhlas, sebenarnya tinggal percaya aja kalau proses tidak akan pernah mengkhianati hasilnya karena kita hanya bisa berusaha sisanya kita serahkan kepada Yang Maha Kuasa.

Ane berpose santai di TKP

Pose bersyukur bisa menikmati keindahan Curug Malela

Pose sebelum balik pulang

Pose kurang satu personil lagi

Rabu, 23 Juli 2014

Jappa-Jappa Rong: Edisi Gianyar Dan Pura Goa Gajah

by
Awal ceritanya, ane sebenarnya berencana untuk mengunjungi Bali Zoo, Pura Rambut Siwi dan Pasar Sukawati namun ternyata malah sampai di Pura Goa Gajah. Meskipun sama-sama berada di daerah Kabupaten Gianyar namun waktu berkata lain. Hari Sabtu kemarin tepatnya 19 Juli mumpung masih suasana libur kerja  makanya bisa melanjutkan Jappa-Jappa Rong. Pagi itu ane langsung bergegas untuk persiapan perjalanan nanti ditambah rute jalan yang telah ane cari dari malamnya. Berbekal tas ransel, handphone dan sepeda motor ane akhirnya berangkat sekitar jam 10 pagi menuju Kabupaten Gianyar, Bali.

Menuju Kabupaten Gianyar dengan berbekal bantuan Google Maps ane menuju ke Bali Zoo terlebih dulu. Singkat cerita ane sampai disana, parkir motor sebentar, dan browsing sebentar mengenai harga tiket masuk disana. Dikarenakan perbekalan yang kurang memadai saat itu maka ane tunda dulu untuk masuk dan memilih melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya. Masih dengan bantuan Google Maps ane melanjutkan perjalanan menuju Pura Rambut Siwi / Pasar Sukawati . Namun akibat keasyikan jalan tanpa intens melihat Maps nya makanya ane sampai kelewatan. Tanpa pikir panjang ane buka Maps lagi dan mencari tujuan baru yang terdekat dimana saat itu ada Pura Goa Gajah. Sepanjangan perjalanan ane disuguhi dengan pemandangan kiri-kanan jalan dengan para pengrajin pahatan kayu dan batu khususnya patung. Memang tak salah kalau Gianyar menjadi pusat budaya ukiran di Bali. Tampak juga disana telah banyak pertokoan, tempat perbelanjaan serta beberapa hotel. Sekadar informasi juga kalau wilayah Kabupaten Gianyar dibagi menjadi 7 kecamatan yaitu Blahbatuh, Gianyar, Payangan, Tegallalang, Tampaksiring, Sukawati, Ubud.

Oke, kita lanjutkan menuju ke Pura Goa Gajah.
Goa Gajah terletak di Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar. Berada persis di sebelah kanan jalan raya jalur Ubud - Kintamani sehingga memudahkan perjalanan kesana. Apabila dari Kota Denpasar hanya memerlukan waktu sekitar 45 menit saja untuk menempuh perjalanan ke Goa Gajah yang berjarak 30 km ke arah timur laut. Sesampainya disana ane langsung disuguhkan dengan berbagai souvernir yang cocok untuk oleh-oleh buat para pelancong. Tanpa basa-basi ane langsung menuju loket penjualan tiket disana dimana Rp 15.000 rupiah untuk Dewasa dan Rp 10.000 untuk Anak-Anak (2-12 Tahun). Sebelum masuk akan ada pengecekan tiket disana dan disediakan kain bali bagi pengunjung yang menggunakan celana pendek. Di dalam ane langsung menuruni tangga dan sampai disebuah tempat yang berbentuk kolam yang terbagi tiga biasa dikenal dengan tempat petirtaan.

Gambar Salah Satu Tempat Petirtaan, Goa Gajah

Selanjutnya ane langsung menuju ke Goa Gajah dimana terdapat pintu berukuran 1x2 meter yang dibagian atasnya terdapat ukiran Arca Ganesha (Gajah). Didalam kita akan mendapati jalur kiri dan jalur kanan, dimana dibagian sebelah kanan terdapat Arca/Lingga Dewa Brahma, Wisnu dan Siwa (dikenal Trimurti, Tri Lingga) dan dibagian sebelah kiri terdapat Arca/Lingga Ganesha. Setelah dari Goa Gajahnya ane mencoba menjelajah tempat lainnya lagi, dimana ane tepat dibelakang petirtaan tadi ternyata ada sebuah pohon pandu menjulang tinggi yang katanya telah berumur 500 tahun.

Gambar Pintu Masuk Goa Gajah tempat Arca/Linggam

Gambar Pohon Pandu berusia 500 tahun

Setelah semua itu dalam perjalanan ane berikutnya akan menuju ke tempat arca buddha, perlu diketahui juga arealnya diluar dari Goa Gajah jadi kita perlu menambah kocek sedikit sebagai sumbangan sebelum masuk. Sebelumnya, dalam perjalanan menuju ke bagian lain dari Goa Gajah ane masih sempat untuk melihat banyak batuan unik yang terukir serta beberapa batuan besar lainnya yang menakjubkan. Tak lupa juga ane sempatkan untuk membeli ukiran khas Goa Gajah *efek nyasar gan.

Gambar Bagian Menuju Areal Bebatuan dan Jualan Ukiran

Gambar foto ane berpose dibelakang batuan besar

Perjalanan menuju ke areal Arca Buddha tersebut cukup lumayan susah (tanpa guide haha) dikarenakan kondisi habis hujan waktu ane kesana, licin dan ane sendiri pun bingung jalanan aslinya dimana. Akhirnya ane keliling sampe mutar-mutar pun belum ketemu alias nyasar lagi dan ane pun memutuskan untuk putar balik dan mengakhiri petualangan di Pura Goa Gajah. Sampai ketemu lagi di Edisi Jappa-Jappa Rong ala #GT




Gambar Bebetuan Unik Dalam Areal Goa Gajah