Disisi lain kita juga mengetahui kini banyak hypermarket yang berdiri dan mungkin sudah menjadi tujuan utama untuk berbelanja khususnya keperluan sehari hari. Pasar modern atau hypermarket inilah yang menjadi salah satu saingan dari pasar tradisional beberapa tahun kebelakang. Lihat saja barang yang dijual hampir semua tersedia, harga-harga yang ditawarkan pun kini makin bersahabat khususnya dengan diskon tertentu yang diberikan. Demikian pasar modern seakan memberikan efek ganda bagi masyarakat maupun pemerintah. Di satu sisi masyarakat akan memiliki peningkatan taraf hidup yang dapat dinilai dengan peningkatan pembangunan sarana perekonomian yang berupa pasar modern tersebut, namun disisi lain hal itu akan menjadi sebuah ancaman bagi para pedagang kecil terutama para pedagang pasar tradisional. Belum lagi kalau kita bahas tentang terbentuknya MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) saat ini yang sedikit banyak pasti mempengaruhi pasar tradsional. Kalau sudah begini ya mau tidak mau tentunya pasar tradisioanl harus melakukan transformasi.
Sumber foto : Pikiran Rakyat
Melalui beberapa bacaan dari internet maupun hasil pengamatan ketika menonton televisi saya pun mencoba untuk membuka Wacana tentang Transformasi Pasar Tradisional sebagai berikut :
1. Pembenahan tempat berjualan di Pasar Tradisional secara merata
Hal ini perlu dilakukan untuk membangun kembali image Pasar Tradisional menjadi tempat yang nyaman, aman, bersih dan bersahabat untuk berbelanja. Kalau bisa sih tempat secara keseluruhan, kemudian lapak masing-masing pedagang. Tentunya juga penyediaan tempat sampah dan tata kelolanya yang baik akan membuat kebersihan selalu terjaga nantinya. Semaksimal mungkin untuk bisa menyamai tempatnya pasar modern. Hal ini perlu dilakukan tak lepas dari diinginkannya siapapun orang dan dari kalangan manapun dapat serta mau berbelanja di pasar tradisional
2. Integrasi hasil panen para petani dengan Pasar Tradisional
Hampir sama seperti kawan-kawan peserta Hackathon Merdeka 1.0 ini [Aplikasi Beli Bawang Langsung Dari Petani] . Integrasi disini dimaksudkan untuk memberdayakan produk/hasil dari petani kita dibanding produk impor, meskipun nantinya kita akan menghadapi persoalan harga. Dengan melakukan integrasi ini maka petani dan pedagang akan terbantu karena tidak perlu repot lagi untuk saling mencari. Diusahakan juga dilengkapi serta didukung oleh manajemen pasar yang membantu mengawasi harga-harga barang di Indonesia maupun dunia. Jangan sampai para rakyat kecil ataupun pedagang mudah dibodohi oleh oknum yang ingin mencari keuntungan dari ketidaktahuan tadi.
3. Menjaga kualitas produk atau barang yang dijual
Kualitas merupakan hal yang sangat diperhatikan oleh kebanyakan orang, meskipun beberapa lebih sering mempertimbangkan harga dibanding kualitas. Orang-orang bahkan berani membayar lebih mahal untuk sebuah kualitas. Nah, disini lagi -lagi dibutuhkan dukungan dari manajemen pasar dan pedagang sendiri untuk menjaga kualitas dari barang yang dijualnya. Kualitas disini maksudnya tidak menggunakan atau menjual barang yang mampu membahayakan manusia apalagi yang jelas-jelas dilarang. Sesuatu bangetlah kalau ini bisa terjadi dan bahkan menjadi image dari Pasar Tradisional.
Begitulah kurang lebih beberapa usulan saya melalui Wacana kali ini mengenai keharusan Pasar Tradisional melakukan Transformasi. Tentunya hal diatas tidak dapat terlaksana tanpa peran serta dari para pedagang, manajemen pasar, pemerintah, serta pembeli tentunya. Semua memiliki perannya masing-masing bahkan orang kecil sekalipun. Sebenarnya juga beberapa Pasar Tradisional sudah ada yang memiliki tempat-tempat bersih, namun sayangnya ini belum tersebar merata. Semoga wacana saya kali ini bisa bermanfaat, saya pun menunggu orang-orang yang bisa merealisasikan (tentunya ada pengkajian yang komprehensif dulu ya) sembari mencari cara juga agar bisa tersampaikan oleh pemerintah khususnya. Sayapun juga sebagai mahasiswa menunggu aksi-aksi nyata para kawan-kawan Mahasiswa Indonesia khususnya.
Akhir kata saya tutup dengan sebuah kutipan dari Madilog Tan Malaka berikut sebagai pesan kepada kaum terpelajar agar lebih memperhatikan rakyat sekitarnya
Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali - Tan Malaka

